Rabu, 01 Desember 2010

Tersedak Bisa Menyebabkan Kematian?

Kematian salah satu personil boy band, Boyzone Stephen Gately cukup mengagetkan. Misteri kematiannya sudah terungkap akibat tersedak. Bagaimana tersedak bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia?

Stephen meninggal akibat tersedak saat muntah ketika tidur setelah sebelumnya mengonsumsi terlalu banyak minuman alkohol. Setiap orang pasti pernah merasa tersedak saat makan atau minum sesuatu yang bisa membuatnya menjadi batuk-batuk dan sulit untuk bernafas. Padahal bernafas adalah salah satu bagian hidup yang sangat penting bagi semua manusia.

Tubuh mengalami tersedak karena terhalangnya jalur pernafasan bagian atas akibat makanan atau benda asing lainnya sehingga menghambat seseorang bernafas dan membuatnya sesak nafas. Tersedak bisa menyebabkan seseorang mengalami batuk-batuk, tapi jika saluran pernafasan tersebut terhalang cukup banyak maka bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia.

Oksigen yang masuk dalam tubuh berguna sebagai sumber bahan bakar. Saat seseorang tersedak jalur pernafasan terhambat sehingga tidak ada oksigen yang masuk ke dalam paru-paru. Otak akan sangat sensitif jika asupan oksigen berkurang dan lama kelamaan akan mulai mati dalam waktu antara 4 jam sampai 6 jam. Disinilah pentingnya pertolongan pertama.

Seperti dikutip dari Emedicinehealth, Rabu (14/10/2009), gejala yang dialami ketika seseorang tersedak adalah batuk, muntah, sinyal tangan (biasanya menunjuk ke arah tenggorokan), tidak bisa berbicara, sesak nafas atau nafas berbunyi dan respons alami tubuh adalah biasanya tangan langsung memegang tenggorokan.

Tersedak juga bisa terjadi jika seseorang minum atau makan dengan cepat atau terburu-buru dan dalam jumlah yang banyak, saat makanan secara tidak sengaja terhirup ketika sedang tertawa atau menangis dan keracunan alkohol akut terutama saat kemampuan menelan dan mengunyah sudah lemah.

Pertolongan pertama yang bisa dilakukan saat orang tersedak adalah:
Tanyakan apakah dirinya tersedak sesuatu, jika masih bisa menjawab dengan jelas maka cukup dampingi saja. Tapi jika tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut segera berikan pertolongan.
Jangan berikan minuman apapun, karena cairan yang masuk tersebut bisa menghambat udara.
Berdirilah di belakang orang tersebut dan letakkan tangan kita di sekitar perut, buatlah kepalan dengan satu tangan dan ibu jari berlawanan dengan perut sementara tangan lainnya menggenggam kepalan.
Dengan gerakan tajam tekan tangan ke atas dan ke dalam perut untuk mengeluarkan benda asing tersebut dari dalam tubuh.
Sebuah tepukan di bagian punggung atau di tulang dada bisa menyebabkan batuk dan mengeluarkan benda tersebut. Benda asing ini harus dikeluarkan dari hypopharynx atau laryngopharynx, karena merupakan bagian dari tenggorokan yang terhubung ke kerongkongan.
Jika benda asing tersebut tidak bisa dikeluarkan dari dalam tubuh, segera larikan ke rumah sakit, sebelum orang tersebut kehabisan nafas.

Teknik Bernapas untuk Melawan Asma

Dallas, Asma merupakan salah satu penyakit turunan yang membikin penderitanya sulit bernapas dengan baik. Kini ditemukan teknik bernapas baru yang bisa digunakan untuk melawan serangan asma.

Teknik bernapas untuk melawan asma telah dikembangkan oleh Thomas Ritz dan Alicia Meuret dari Fakultas Psikologi Southern Methodist University di Dallas, Amerika Serikat. Sebelumnya teknik ini telah diajarkan pada penderita asma selama 4 minggu mengenai bagaimana mengontrol kondisi asma serta mengubah cara bernapas agar lebih baik.

Selama terjadi serangan asma, penderita cenderung hiperventilasi, bernapas cepat dan mendalam terhadap saluran udara yang terbatas untuk melawan perasaan kekurangan oksigen. Hal ini akan membuat masalah menjadi lebih buruk, karena menurunkan kadar karbondioksida yang membatasi aliran darah ke otak. Jika berlangsung lama dapat mengiritasi bagian tenggorokan yang sensitif.

Pasien asma yang terus menerus bernapas secara berlebihan berisiko mengalami kekurangan karbondioksida kronis yang bisa membuatnya menjadi lebih rentan terhadap serangan asma di masa mendatang.

Ritz dan Meuret mengembangkan teknik bernapas yang disebut dengan Capnometry-Assisted Respiratory Training (CART), yaitu mengajarkan penderita asma untuk menormalkan dan membalikan pernapasan yang berlebihan tersebut.

Teknik ini menggunakn sebuah perangkat genggam yang disebut dengan capnometer untuk mengukur jumlah karbondioksida saat menghela napas. Dengan menggunakan alat ini, penderita belajar bagaimana bernapas lebih lambat dan lebih teratur.

"Teknik CART ini bisa memiliki dampak yang positif pada kualitas perawatan asma serta mengurangi perawatan untuk asma yang akut," ujar Ritz, seperti dikutip dari Health24, Kamis (15/10/2009).

Ritz menambahkan bahwa terapi pernapasan jenis ini dapat membatasi frekuensi serangan asma serta mencegah terjadinya sesuatu yang lebih parah. Hal ini berarti akan lebih sedikit berobat ke dokter dan mengurangi penggunaan obat-obatan. Dengan begitu maka penderita asma bisa menghemat uang dan waktu. Teknik bernapas ini akan memberikan pengobatan yang lebih baik, sehingga kualitas hidup penderita asma tersebut juga menjadi lebih tinggi serta membantu penderita asma mengontrol dirinya sendiri.