Kamis, 29 September 2011

Kesan Pertama Menjajal Windows 8


KOMPAS.com — Dilihat dari sejarah panjang perkembangan sistem operasi Microsoft Windows, Windows 8 bisa dianggap sebagai milestone ketiga setelah kehadiran Windows 95 dengan sistem navigasi Taskbar dan Windows 32 yang menjadi versi pertama Windows.

Windows 8 menawarkan antarmuka dan pengalaman yang benar-benar baru bagi pengguna Windows. Tetapi, bagi pengguna gadget layar sentuh, kehadiran Windows 8 tak lebih dari perkembangan yang mengikuti zaman, di mana peran papan tuts dan tetikus diambil alih oleh sentuhan dan sapuan jari.

Setelah Microsoft merilis Windows 8 versi percobaan untuk pengembang, dua hari lalu, saya langsung mengunduh berkasnya. Yang saya pakai adalah Windows Developer Preview 32 bit sebesar 2,8 GB. File berekstensi .iso ini harus "dibakar" dulu ke keping DVD. Sebelumnya, saya mencoba melakukan instalasi langsung lewat hard disk dan flash disk, tetapi berhenti di tengah jalan. Instalasi sistem operasi ini harus menggunakan keping DVD.

Proses instalasi tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar sepertiga waktu yang dibutuhkan untuk menginstal Windows 7 yang sebelumnya sudah tertanam di laptop. Warna hijau akan mendominasi tampilan selama instalasi.

Selesai instalasi, pengguna akan langsung dibawa ke halaman Start yang tidak lagi menempel pada Taskbar. Di versi teranyarnya, Start Menu Windows berubah wujud menjadi halaman Start memanjang bernuansa hijau yang dipenuhi dengan tombol-tombol aplikasi bawaan. Inilah pintu masuk Windows yang sepenuhnya didedikasikan untuk perangkat layar sentuh. Tampilan ini segera mengingatkan saya pada iPad yang menjadi perangkat kedua saya dalam kurun waktu setahun terakhir.

Harap dicatat, di versi percobaan ini, semua aplikasi (di luar aplikasi bawaan Windows) yang ada di Windows versi sebelumnya tidak bisa digunakan di versi ini, termasuk aplikasi Microsoft Office.

Berhubung sistem operasi terbaru Microsoft ini saya gunakan di laptop Acer, fitur-fitur layar sentuh tidak bisa digunakan. Namun, itu bukan masalah, karena Windows 8 tetap bisa digunakan di perangkat komputer ataupun laptop tanpa layar sentuh. Untuk bergeser ke menu lainnya, saya cukup menggulung halaman dengan tetikus atau mengklik tombol panah di bagian bawah halaman Start. Sedangkan di sudut atas, terdapat profil pengguna yang fotonya bisa diganti dengan memanfaatkan webcam yang ada.

Meskipun tampilan Start Menu berubah, Windows tetap mempertahankan tampilan lama yang di sini disebut sebagai "Desktop". Begitu Anda mengklik menu Desktop, Anda akan kembali ke suasana lama, lengkap dengan gambar desktop, panel Taskbar, dan tombol "Start" berlogo Windows di sudut kiri bawah.

Tetapi, sekali lagi, tombol Start tersebut tidak akan mengeluarkan deretan menu seperti pada versi sebelumnya. Bila Anda mengklik logo Windows atau menekan tombol Start pada keyboard, Anda akan ditarik kembali ke halaman Start. Selain itu, Anda bisa menyorot tetikus ke sudut kiri taskbar untuk memunculkan tombol-tombol kelola yang terdiri dari menu Settings, Devices, Share, dan Search.

Saat masuk ke Windows Explorer, saya menemukan tampilan menu baru yang lebih terstruktur. Tampilan ini saya anggap sebagai standardisasi tampilan dari Microsoft Office 2010 yang, selain di Windows Explorer, juga diterapkan pada aplikasi WordPad.

Untuk berpindah ke aplikasi sebelumnya, Anda tetap bisa menggunakan kombinasi tombol Alt+Tab atau tombol Windows+Tab (tapi animasi Aero tidak keluar di versi ini). Selain itu, Anda bisa berpindah antar-aplikasi dengan menempelkan kursor ke sisi kiri layar. Sebuah minilayar akan keluar di dekat kursor yang akan membawa Anda ke aplikasi lain. Tunggu review berikutnya. (Kompasiana/Iskandarjet)

Selasa, 26 Juli 2011

Parfum Mayat serimpi Laris Dibeli Warga sebagai penangkal tikus

Haaah.!!Parfum Mayat Laris Dibeli Warga - Sebagian petani padi di Tulungagung mulai berburu parfum mayat. Untuk pergi ke dukunkah? Bukan, melainkan untuk mengusir hama tikus yang telah menyerang ribuan hektare tanaman padi mereka.

Minyak Wangi Cap Serimpi, yang biasa dipakai untuk melumuri jenazah, ini laris manis sejak para petani mulai menggunakannya untuk mengusir tikus sampai musim panen tiba. Dan, cara ini terbukti efektif.

Ny Mulyati (60), petani Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, telah membuktikan khasiat minyak Serimpi. Itu setelah berbagai cara mengusir tikus, mulai dari memasang perangkap, memberi umpan beracun, hingga memagari tanaman dengan plastik, tanpa hasil optimal.
“Berbagai cara pembasmian sudah saya lakukan, tapi tikus tetap mengganas dan memakan batang tanaman padi yang baru 3 minggu ditanam,” tuturnya.
Di tengah keputusasaan, Ny Mulyati mendengar kabar dari mulut ke mulut bahwa minyak Serimpi bisa dipakai mengusir tikus. Maka, tanpa pikir lama, ia langsung mempraktikkannya.

Untuk setiap sawah seluas 250 are atau 3.500 m2, dibutuhkan 10 botol minyak Serimpi ukuran @ 14,5 ml dan satu sachet softener (pelembut pewangi pakaian) ukuran 800 ml. Minyak berbau harum menyengat plus softerner ini kemudian dilarutkan ke dalam air. Satu botol minyak Serimpi untuk 2 tangki alat penyemprot.
Larutan berbau harum itu kemudian disemprotkan pada batang padi. Meski baru coba-coba, ternyata cara ini cukup efektif untuk mengusir tikus. “Sudah saya praktikkan, dan ternyata serangan tikus mereda,” kata Ny Mulyati, Kamis (21/7).
Minyak Serimpi juga dipakai untuk tanaman padi yang belum diserang tikus dengan komposisi untuk setiap 250 are hanya diperlukan 3 botol minyak Serimpi @ 14,5 ml.

Dari segi biaya, cara mengusir tikus dengan minyak Serimpi lebih murah dibanding dengan obat pembasmi hama. Apalagi harga sebotol minyak yang biasa dipakai dukun ini hanya Rp 2.000 untuk ukuran 14,5 ml.
Namun, penyemprotan harus diulang ketika aroma wangi parfum sudah memudar dan tikus mulai datang kembali. Pengulangan dilakukan sampai masa panen tiba.

Alim (43), Kasun Kedungjalin, Desa Junjung, Kecamatan Kalidawir, mengatakan, sebagian petani memang menggunakan minyak Serimpi. Namun, lanjutnya, sebenarnya semua jenis wewangian bisa dipakai untuk mengusir tikus. “Ada juga kok petani yang memakai minyak wangi merek Fanbo yang juga sama-sama harum menyengat,” tuturnya.
Gara-gara tikus, para pemilik toko kelontong yang berjualan minyak Serimpi kebanjiran pembeli. Slamet, pemilik toko di Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, mengatakan, akhir-akhir ini minyak Serimpi yang konon terbuat dari sari bunga melati, laris manis.

Koordinator Penanganan Organisme Pengganggu Tanaman Disperta Tulungagung, Sugeng, menyatakan, tikus adalah hewan pengerat yang cerdas. Biasanya, tikus akan takut dan curiga pada sesuatu yang baru, termasuk minyak Serimpi. Namun, pada rentang waktu tertentu, tikus akan mulai belajar dan membiasakan diri. Jika hal itu terjadi, maka tikus tidak lagi takut wewangian dan kembali menyerang.
Cara paling efektif membasmi hama tikus, kata Sugeng, adalah dengan membasmi secara fisik. Seperti perburuan induk dan anaknya, atau dengan cara pengasapan dengan gas belerang. Dengan membunuh induk hingga anak-anaknya, proses regenerasi tikus akan terputus.

Menurut Kojin (35), petani yang juga pemilik toko pertanian di Dusun Miren, Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, selain minyak Serimpi, ada pula petani yang menggunakan rendaman umbi gadung yang dirajang tipis. Air rendaman disemprotkan ke batang tanaman padi. Aroma menyengat rendaman gadung diyakini tidak disukai tikus, apalagi cairan itu juga beracun. Namun, lanjutnya, cara ini kurang praktis. Sebab, proses merajang dan merendam membutuhkan waktu dan tenaga. Belum lagi umbi gadung saat ini cukup sulit didapat.

Ditambahkan Sugeng, selama 2011, serangan tikus di Tulungagung lebih hebat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini karena cuaca pada 2010 nyaris tanpa musim panas. Lingkungan lembap dan basah memicu tikus untuk terus berkembang biak. Kondisi ini didukung dengan melimpahnya air yang membuat petani terus menanam padi sepanjang tahun. Akibatnya siklus reproduksi tikus tidak pernah terputus.

Masih menurut Sugeng, dari sekitar 50.000 hektare tanaman padi di Tulungagung, sebanyak 160 hektare di antaranya sudah diserang tikus dan 12 hektare lainnya puso alias gagal panen.
Namun, papar Sugeng, serangan tikus belum melumpuhkan produksi padi di kota marmer, karena areal yang terserang tersebar di 15 (dari 19) kecamatan. Setiap hektare tanaman padi, rata-rata menghasilkan 6,1 ton gabah. Sehingga secara tahun ini Tulungagung masih bisa menghasilkan sekitar 304.024 ton gabah. sumber